Jumat, 25 Juli 2025

KetumDa Bicara Tentang RPJMD Kota Bogor


KAMMI Bogor: Kawal Penuh RPJMD Kota Bogor, Tegaskan Komitmen Terhadap Isu Pendidikan dan Pemuda

Bogor, 23 Juli 2025 – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Bogor menyatakan dukungan kritis dan partisipatif terhadap arah kebijakan pembangunan Kota Bogor yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.

RPJMD yang kini dalam tahap finalisasi hingga akhir Juli ini diusung oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor dengan tagline: “Bogor Beres, Bogor Maju.” Empat misi utama pembangunan daerah—Bogor Cerdas, Bogor Sehat, Bogor Sejahtera, dan Bogor Lancar—dinilai sebagai kerangka yang progresif, namun perlu pengawalan serius agar tak hanya berhenti di atas kertas.

“KAMMI Bogor mendukung penuh arah pembangunan ini, namun perlu dicermati bahwa implementasinya harus menyentuh langsung persoalan riil masyarakat, terutama anak muda,”
— ujar Hizbi Shalahuddin, S.E, Ketua Umum KAMMI Daerah Bogor.

🔎 Isu Pendidikan: PR Besar “Bogor Cerdas”

Dalam misi Bogor Cerdas, KAMMI Bogor menyoroti problem krusial yang masih menghambat kemajuan pendidikan, yaitu tingginya angka anak putus sekolah serta minimnya daya tampung sekolah negeri.

Tahun ini, lebih dari 7.000 siswa tidak tertampung di sekolah negeri, menandakan ketimpangan akses pendidikan yang cukup serius di kota ini.

“Ini harus jadi perhatian utama. Jangan sampai visi Bogor Cerdas hanya jadi slogan tanpa keberpihakan pada siswa dari keluarga prasejahtera,”
— tegas Hizbi.

💸 Isu Sosial-Ekonomi: Pinjol & Judol Marak, Khususnya di Bogor Selatan

Dalam aspek Bogor Sejahtera, KAMMI menyoroti meningkatnya kasus pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) yang mulai menjangkiti generasi muda, terutama di kawasan Bogor Selatan. Fenomena ini menunjukkan lemahnya literasi keuangan dan rapuhnya ketahanan ekonomi keluarga muda.

“Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga krisis sosial dan moral. Ketika banyak anak muda terjebak dalam pinjol dan judol, kita harus bertanya: di mana peran negara dalam melindungi mereka?”
— lanjut Hizbi.

👥 Isu Kepemudaan: Perda Belum Di-Perwal-kan, Perlu Tekanan Bersama

Lebih lanjut, KAMMI Bogor menyoroti pentingnya percepatan implementasi Perda Kepemudaan Kota Bogor, yang sampai hari ini belum kunjung diturunkan dalam bentuk Peraturan Wali Kota (Perwal).

“Perda ini perlu segera di-Perwal-kan sebagai bentuk keseriusan dalam membina dan memberdayakan generasi muda. Jika tak segera direalisasikan, maka anak muda hanya akan jadi objek pembangunan, bukan subjek utama.”
— jelas Hizbi.

KAMMI menegaskan bahwa perda tersebut penting dalam menyediakan ruang kreatif, lapangan kerja berbasis digital, dan program kepemimpinan anak muda—sebagai dukungan terhadap cita-cita Indonesia Emas 2045.  


💡 KAMMI Siap Menjadi Mitra Kritis & Solutif

Sebagai organisasi pemuda yang tumbuh dari rahim kampus dan umat, KAMMI Bogor menegaskan komitmennya untuk terus mengawal arah pembangunan kota.

“Kami tidak hanya hadir sebagai pengkritik, tapi juga sebagai mitra strategis dan solutif bagi Pemkot Bogor. Anak muda harus diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan hanya pelengkap statistik RPJMD.”
— tutup Hizbi. 


📢 Salam Muslim Negarawan!
KAMMI Bogor – Bogor Progres

(MF/Humas)

Sabtu, 04 Mei 2019

KAMMI Bogor: Polisi dan Birokrat Bogor Wajib Bersikap Netral di Pilpres 2019


KAMMI Daerah Bogor melakukan aksi di depan Tugu Kujang, Senin (15/4). KAMMI mendesak polisi, TNI dan birokrat di Kota Bogor wajib netral  di Pilpres 2019.
Dalam aksinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mendesak Aparatur Sipil Negara (ASN), pejabat pemerintah daerah dan aparat penegak hukum Kota Bogor, tidak menyalahgunakan  jabatannya.

Aksi sendiri dihadiri oleh berbagai komisaat KAMMI mulai dari Universitas Djuanda, Universitas Ibnu Khaldun, STIE Tazkia, Politeknik AKA dan Universitas Pakuan Bogor.
Ketua umum KAMMI Bogor, Ammar Multazim menghimbau agar aparat dan birokrat berlaku netral.

“Kita kawal demokrasi yang berintegritas. Sudah seharusnya Aparat dan birokrat berlaku netral, dari lingkungan pemerintah daerah, kecamatan hingga RT RW,” Ujar Ammar.

Sementara itu Ketua Bidang Kebijakan Publik KAMMI Bogor, Ahmad Abdullah Rahil mengatakan KAMMI  mendesak agar Pemkot Kota Bogor tidak mengkoordinir ASN untuk memenangkan salah satu calon Presiden, Caleg atau Partai tertentu.
“Kami mendesak pejabat pemerintah untuk tidak menyalahgunakan jabatannya,” katanya.

“Karena kami menemukan indikasi bahwa pejabat Pemerintah Kota Bogor mengkoordinir aparatur sipil negara untuk memenangkan salah satu calon presiden dan partai tertentu. Bahkan hal ini sudah sampai ke level RT RW di Kota Bogor,” kata Rahil.

Sementara itu Ketua KAMMI Komisariat Universitas Djuanda, Jodi Setiawan mengatakan aksi KAMMI untuk mengingatkan agar jajaran pemerintah pemerintah mulai dari tingkat Pusat, Daerah, Kecamatan hingga RT, RW untuk bersikap adil, bersih dan jujur.

“KAMMI juga mengingatkan para camat diseluruh Bogor agar bisa bersikap netral dalam pemilu agar terciptanya pemilu yang demokratis, pemilu yang aman. Bagaimana pemilu bisa aman jika tidak adanya sikap netral, jujur dan adil,” ungkap Jodi.

Selain itu Jodi juga menghimbau kepada para masyarakat untuk berperan aktif untuk melaporkan jika adanya kecurangan.


Sumber: https://bogor.pojoksatu.id/baca/kammi-bogor-polisi-dan-birokrat-bogor-wajib-bersikap-netral-di-pilpres-2019

Tuntut Netralitas Polri, KAMMI Se-Jabodetabek Kembali Turun Aksi

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Se-Jabodetabek hari ini Senin (8/4) kembali turun ke jalan dalam aksi di depan Gedung Mabes Polri.
Mereka menuntut Aparat Kepolisian untuk netral dalam momentum Pemilu dan Pilpres 2019, sesuai dengan aturan UU.
“Kammi Jabodetabek hari ini turun ke jalan, membuktikan bahwa dimana ada kezholiman, kita lawan,” sebut Koordinator Aksi, Bahrudin saat berorasi.
Dia mengatakan berdasarkan UU No.2 Tahun 2002 tentang POLRI pada Pasal 28 poin 1, berbunyi “Kepolisian Negara Republik Indonesia bersikap netral dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik praktis.”
Maka kata dia, segala bentuk tindakan yang dilakukan oknum pejabat POLRI dalam rangka mendukung salah satu dari pasangan calon presiden jelas bertentangan dengan prinsip POLRI.
“Kita telah siapkan Pakta Integritas, kita tunggu  pejabat tinggi Polri untuk berani keluar tuk tanda tangan,” tambah Ichsan Ketua KAMMI Depok di sela-sela aksi.
Menurutnya, dibutuhkan tindakan tegas dari Pejabat Tinggi POLRI kepada oknum yang diduga telah menyalahgunakan wewenang. Hal ini perlu guna menjaga harga diri POLRI.
“Kita telah siapkan Pakta Integritas, kita tunggu  pejabat tinggi Polri untuk berani keluar tuk tanda tangan,” tambah Ichsan Ketua KAMMI Depok di sela-sela aksi.
Menurutnya, dibutuhkan tindakan tegas dari Pejabat Tinggi POLRI kepada oknum yang diduga telah menyalahgunakan wewenang. Hal ini perlu guna menjaga harga diri POLRI.
Dalam aksi tersebut KAMMI Se-Jabodetabek menyampaikan tiga tuntutan kepada para Pejabat Tinggi Polri.
Pertama, KAMMI mendesak Polri berkomitmen menjaga netralitas dalam momentum Pemilu dan Pilpres 2019. Kemudian kedua menjaga keamanan dan kelancaran proses Pemilu dan Pilpres 2019.
“Terakhir, siap memberhentikan dan mengusut tuntas kasus yang melibatkan pejabat POLRI dalam momentum Pemilu dan Pilpres 2019,” bunyi pernyataan sikap.
Ketua Pengurus Wilayah KAMMI DKI Jakarta, Jimmy Juliand mengatakan bahwa akan terus mengawal netralitas POLRI dalam momentum Pemilu dan Pilpres 2019
“Kita nantikan aksi konkrit Pak Tito untuk memecat oknum perusak citra netralitas Polri,” tegas Jim

Sumber: https://www.aktual.com/tuntut-netralitas-polri-kammi-se-jabodetabek-kembali-turun-aksi/

Aksi tolak RUU


Sejumlah massa Aksi Perempuan yang tergabung dalam beberapa komunitas dan organisasi masyarakat termasuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMMI) menolak rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual di Bundaran HI Jakarta Pusat ada Ahad, 28 April 2019. Mereka menghendaki kata kekerasan seksual seharusnya diganti dengan kejahatan seksual. Kekerasan memiliki makna bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya dianggap sebagai bentuk tindak kekerasan. Sedangkan kejahatan dapat diartikan segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam suatu hukum tertulis.

RUU PKS ini menimbulkan polemik di tengah kehidupan masyarakat. Jika dikaji lebih dalam ternayata terdapat banyak kejanggalan dalam draft RUU ini. Dalam naskah akademik dan draf RUU PKS dijelaskan definisi kekerasan seksual: “Setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan atau perbuatan lainnya terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang dan atau fungsi reproduksi secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang dan atau perbuatan lain yang menyebabkan itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan atau relasi gender yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan atau politik.” Dalam definisi tersebut dijelaskan sebab terjadinya kekerasan seksul adalah karena ketimpangan relasi kuasa atau relasi gender. Kalimat ini jelas mengandung kampanye ideologi feminisme dan sekular. Dalam artian tidak boleh ada yang memimpin atau berkuasa dalam hal gender. Padahal dalam Islam jelas bahwa laki-laki merupakan qawwam bagi perempuan. Bahkan konsep yang diajukan dalam RUU PKS ini sama sekali tidak berlandaskan pancasilais.

Jika kita kaji lebih dalam lagi dalam bab V pasal 11, RUU PKS, 9 (sembilan) jenis tindak pidana yang disebut sebagai “kekerasan seksual”: pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual. Seluruh bagian RUU PKS baik naskah akademik baik draft awal sampai akhir menunjukkan demoralisasi dalam kontrol sosial, pengabaian terhadap nilai agama serta pembebanan kepada negara atas kebebasan kontrol. Landasan yang dibawa oleh pengusung RUU PKS adalah ideologi sekularisme, mengabaikan agama dalam penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi mereka yang pro terhadap RUU PKS menjadikan segala bentuk pemaksaan sebagai kekerasan, namun apabila dilakukan atas dasar suka sama suka berarti tidak masalah. Hal ini akan semakin berkembangnya perzinahan, LGBT, homo, lesbian dan lain  sebagainya. Dalam hubungan perkawinan pun akan semakin meningkatnya angka perceraian karena konsep yang mereka usung adalah “my body is mine” yang berarti tubuhku adalah milikku. Orang lain tidak berhak mengatur otoritas tubuhku. Sedangkan dalam konsep Islam suami adalah pakaian bagi istri dan begitupun sebaliknya, tidak ada ruang privasi diantara keduanya dan justru akan semakin melengkapi dalam melakukan kebaikan.

Dalam aksi yang digelar pada hari Ahad kemarin menunjukkan bahwa suara para perempuan yang ingin memperjuangkan nasib generasi selanjutnya, menuntut haknya untuk didengar aspirasinya. Kita tinggal di negara Demokrasi lantas mengapa apabila ada pendapat yang menolak lalu dibungkam ? Kami ingin menjadi bangsa yang bermoral, mengedepankan nilai agama dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

KAMMI Demo di Depan Istana: Kebijakan Jokowi Rugikan Rakyat


 Di tahun politik, kalangan mahasiswa mulai ikut bergerak mengkritisi pemerintahan Presiden Jokowi. Seperti pada Jumat (14/9/2019), ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) meminta seluruh elemen masyarakat mengkritisi kebijakan pemerintahan Jokowi.
Mereka akan menggelar aksi damai untuk mengkritisi lemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Sebelum berunjuk rasa, mereka berjalan dari kawasan Patung Kuda menuju depan Istana Negara, tepatnya di pojok aspirasi.
Sepanjang perjalanan, para mahasiswa mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang telah dinilai merugikan masyarakat. Aksi damai ini diikuti seluruh Pengurus Wilayah KAMMI se-Jakarta, Pengurus Daerah (PD) Bekasi, Depok dan Tangerang Selatan.
“Kita lawan kebohongan yang telah diciptakan penguasa saat ini, katanya ekonomi kita saat ini baik-baik saja tetapi rakyat teriak harga-harga bahan pangan terus naik, harga listrik naik dan terus impor,” kata Wakil Ketua KAMMI Bogor, Arif saat orasi di depan Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/9/2018).
Tak hanya itu, ia dengan nangkring di atas mobil komando, juga meminta agar Presiden Jokowi tidak menyalahkan terus lemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS lantaran faktor eksternal, tanpa ada perbaikan keadaan ekonomi internal dalam negeri.
“Jangan terus menyalahkan faktor-faktor eksternal tapi kondisi internalnya terutama para Menteri-menteri Presiden Jokowi tidak sejalan, yang satu kesana yang satu kesitu,” ujarnya.  



Sumber: http://poskotanews.com/2018/09/14/mahasiswa-demo-di-depan-istana-kebijakan-jokowi-rugikan-rakyat/

KAMMI Bogor Desak KNPI Segera Gelar Musda


Bogor – Pengurus daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor mendesak segera dilaksanakannya Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bogor.
Ketua Umum KAMMI Bogor, Ammar Multazim mengatakan masa kepengurusan KNPI Kabupaten Bogor telah habis sejak Desember 2018 lalu.
“Berdasarkan SK sudah habis di 2018, maka harus segera digelar Musda agar berjalan regenerasi kepemimpinan di tubuh KNPI,” ujarnya dalam releasenya, Sabtu (12/1).
Ia mengaku kecewa dengan belum digelarnya Musda sampai saat ini.
“SK habis tapi Musda belum digelar juga, itu merupakan suatu hal yang mengecewakan,” ucapnya.
Ammar menambahkan pihaknya akan berkordinasi dengan OKP lain untuk mendesak dan mendorong agar Musda segera dilaksanakan.
“Kami akan terus berkordinasi dengan OKP lain untuk mendesak dan mendorong agar Musda segera digelar,” pungkasnya.

Sumber: http://redaksibogor.com/kammi-bogor-desak-knpi-segera-gelar-musda/

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Disdik MoU Dengan KAMMI Bogor


Pendidikan (Disdik) Kota Bogor dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Bogor, melakukan kerjasama, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Bogor, ke arah yang lebih baik lagi.

Perjanjian kerjasama tersebut dituangkan dan ditandatangani dalam nota kesepahaman, antara Kepala Disdik, Fahrudin dengan Ketua Umum KAMMI Daerah Bogor, Ammar Multazim, di Disdik, Jalan Pajajaran 125, Kelurahan Bantar Jati, Kecamatan Bogor Utara, Selasa (04/09/2018).

“Dalam kesepakatan bersama (Memorandum Of Understanding atau MoU) itu,
KAMMI dan Disdik siap berkomitmen untuk terus bekerjasama dan bersinergi, khususnya dalam menanggulangi kriminalitas yang dilakukan oleh dan pada pelajar,” ujar Fahrudin, usai penandatangan, yang disaksikan Kepala Bidang Pendidikan SD, Maman Suherman dan Jajang Koswara, Kasi Perencanaan dan Pelaporan, Disdik Kota Bogor.

Selain itu, lanjut Fahrudin, kedua belah pihak siap mengadvokasi angka putus sekolah di Kota Bogor. Bahkan, Disdik Kota Bogor dan KAMMI juga berkomitmen untuk terus membenahi fasilitas pendidikan serta memperbaiki kualitas pendidikan di Kota Bogor. “Kami juga berkomitmen dan terus berkomunikasi secara rutin, terutama dalam rangka merealisasikan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di kota hujan ini,” tambah Fahrudin.


Sumber : https://www.kabar1.com/amp/tingkatkan-kualitas-pendidikan-disdik-mou-dengan-kammi-bogor/

Senin, 29 April 2019

Cacat hukum, KAMMI Tuntut Pemerintah Kota Bogor Bongkar Bangunan Transmart


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor menggelar aksi demo yang menuntut Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor membongkar bangunan Transmart yang berlokasi di Jalan KH Abdullah Bin Nuh Kelurahan Cibadak Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor karena bangunan tersebut belum mengantungi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Puluhan pengunjuk rasa menggelar aksinya di depan Balaikota Bogor, Selasa (17/10/2017) siang.
Menurut mahasiswa, pembangunan gedung Transmart telah melanggar Perda yang cukup berat.

Pasalnya pembangunan yang dimulai sejak bulan Maret 2017 sampai saat ini belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Padahal jelas disebutkan dalam Perda no. 7 Tahun 2006 bahwa pendirian gedung wajib memiliki IMB. IMB merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum berdirinya gedung.

“Ini sama saja dengan perkosa anak orang baru dikawinin. Pemkot Bogor jangan jadi germo yang membiarkan tanah Bogor diperkosa,” tegas Arif Sibghotulloh koordinator aksi.

Arif mengatakan, Pemkot Bogor harus mengevaluasi besar-besaran terkait permasalahan ini. “Kok bisa pembangunan sudah berjalan hingga kurang lebih 6 bulan sudah berdiri 2 lantai tanpa IMB didiamkan begitu saja,” tukas Ketua KAMMI Bogor Bidang Kebijakan Publik tersebut
Mahasiswa juga mempertanyakan, dimana peran pemkot Bogor dan dinas terkait. Seakan-akan terjadi pembiaran, atau terkesan tutup mata, ada apa sebenarnya??. Perlu adanya ketegasan dalam menangani permasalahan ini.

“Kami meminta ketegasan dari Pemkot Bogor. Pemkot harus berani menggusur pengusaha nakal, jangan tebang pilih,” tandas Arif.


Dalam aksinya para mahasiwa membentangkan spanduk bertuliskan “Bongkar Transmart Harga Mati” Selain mereka melakukan aksi teatrikal, yang digambarkan melalui aksi tabur bunga.

Bunga tersebut ditaburkan di atas kertas bertuliskan ‘Izin Mendirikan Bangunan IMB’. Aksi treatrikal dilakukan mahasiswa sebagai gambaran bahwa perizinan di Kota Bogor sudah mati.

Dalam aksi tersebut tidak ada satupun pejabat Pemkot Bogor yang menerima perwakilan pengunjuk rasa. “Kami sempat akan diterima oleh Kasatpol PP, tapi kami tolak, karena bukan Wali Kota atau Wakil Wali Kota yang menerima kami, ” kata Wakil Ketua Umum KAMMI Bogor Lathif Fardiansyah

Selama berjalannya aksi mendapat pengawalan dari puluhan aparat kepolisian dari Polresta Bogor Kota dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor.

sumber: https://inilahonline.com/kammi-tuntut-pemerintah-kota-bogor-bongkar-bangunan-transmart/

Sindir Perjalanan Dinas, KAMMI: Enak Toh Jalan-jalan Pakai Duit Rakyat


Ketua dan Wakil DPRD Kota Bogor disindri melalui spanduk demontrasi mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor.

"Jalan-jalan ke Paris pake duit rakyat Bogor, enak toh jalan2 pakai duit rakyat," tulisan di sebuah banner yang dibawa lengkap dengan foto Untung Maryono dan Hery Cahyono.

Aksi demo di Gedung DPRD Kota Bogor, pada Senin (04/01/2015), sekitar pukul 14.30 WIB, menuntut beberapa hal.

"Kami menuntut agar Pemkot tidak lagi melakukan pemborosan anggaran perjalan dinas, yang paling parah itu ke Paris," kata Ketua Kammi, Abdul Sallam, kepada TribunnewsBogor.com.

Selain itu, massa juga menuntut agar fungsi pengawasan ditingkatkan, agar realisasi anggaran lebih maksimal dan tidak menimbulkan silfa.

"Untuk Pemkot, kami mendesak untuk mengganti jajaran SKPD yang memiliki catatan buruk, seperi Disdik, Binamarga dan Wasbangkim," kata Abdul.

Lebih parah, tuntutan paling mendasar dari aksi demo ini ialah Pemkot Bogor diminta untuk bertanggung jawab atas hilangnya aset daerah sebesar Rp 123 miliar.

"Kemana itu aset, nilainya fantastis, harus tanggungjawab," ujarnya.

sumber: http://bogor.tribunnews.com/2016/01/04/sindir-perjalanan-dinas-kammi-enak-toh-jalan-jalan-pakai-duit-rakyat.

KAMMI Bogor : Menjaga Stabilitas Nasional dan Menolak Intoleran


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, (KAMMI) Bogor menjujung tinggi peduli terhadap sikap Toleransi antar umat beragama yang ada di Jawa Barat terutama di Kota Bogor.

Masyarakat kota Bogor sangat wujudkan sikap toleransi dan persatuan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Ketua KAMMI Kota Bogor Ammar Multazam SH. MH, menyatakan jadikan kota Bogor sebagai daerah yang mempuyai persamaan Hidup beragama dan bertoleransi yang baik dan saling menghormati, menghargai antar umat beragama sehingga tidak menjadikan kota Bogor hanya milik suata golongan atau kelompok saja.

"Dengan menghargai dan menghormati antar umat beragama akan menjadikan kota Bogor yang santun bermartabat dan mempuyai budi pekerti dan sikap toleransi yang baik," kata Ketua KAMMI, Selasa 18 Desember 2018.

Lanjutnya, organisasi KAMMI kota Bogor mempuyai visi misi untuk pembagunan kota Bogor yang baik dan dapat terciptanya kesamaan dan keadilan yang baik bagi semua kalangan.

"Motto kami, mendukung terciptanya stabilitas Nasional dengan menolak intoleran di wilayah Bogor" ujar Ammar.

Wilayah Jawa Barat khususnya Bogor akan terbangun sinergitas dan pembangunan SDM dan sarana dan prasarana yang baik, karna Keamanan dan ketertiban dapat terjaga dengan baik dan berjalan sesuai dengan koridor Hukum yang berlaku.

"Terciptanya Keamanan Nasional yang dapat mempersatukan NKRI khususnya wilayah Bogor," harap Ammar ketua KAMMI Bogor.

sumber: http://indojayanews.com/daerah/kammi-bogor--menjaga-stabilitas-nasional-dan-menolak-intoleran/

Bima Arya: KAMMI memiliki ketulusan dan keikhlasan


Wali Kota Bogor Bima Arya meminta Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) untuk beradaptasi dan bersinergi. Tugas, visi dan tantangan kedepan sama, namun tantangan yang utama adalah beradaptasi dengan perubahan. "Wali Kota harus beradaptasi, KAMMI juga harus beradaptasi ditengah jutaan tantangan dan peluang," jelas Wali Kota Bogor Bima Arya saat membuka pawai Milad ke-19 KAMMI di tugu Kujang, Kota Bogor. Minggu (02/04/17).

Menurut Bima, dahulu saat dirinya aktif di LSM dan NGO isu utama adalah demokratisasi. Namun sekarang isu besarnya adalah lingkungan hidup, transportasi, kesehatan dan pendidikan. Dahulu yang terkenal itu aktivis lapangan dan tokoh politik, tetapi sekarang yang menjadi sorotan itu kepala daerah, gubernur, bupati dan walikota yang berprestasi. "Isunya pun bukan lagi isu politik, namun isu kesejahteraan, kesehatan dan kemacetan," ujar Bima.

Oleh karena itu, Bima mengajak KAMMI untuk sama-sama beradptasi terhadap isu perubahan yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Politik penting, tapi itu bukan segalanya. Bagi warga mereka tidak peduli siapa pemimpin politiknya yang penting bisa hidup dengan nyaman dan tenang. “Intinya mari kita sama-sama beradaptasi dan bersinergi dengan permasalahan konkrit,“ ungkapnya.

Menurutnya, perjuangan terberat adalah membangun kultur. Ada uang infrastruktur bisa dibangun, tetapi belum tentu dengan kultur. Tugas kita sekarang adalah membangun kultur, warga yang cinta pada kotanya, warga yang ingin mengurus kotanya. "Pemkot Bogor dan KAMMI bisa melakukan itu karena KAMMI punya satu hal hal yang tidak dimiliki yang lain yakni ketulusan dan keikhlasan," pungkasnya.
sumber: https://kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/6619/bima-kammi-harus-mampu-beradaptasi-dan-bersinergi

Islamic Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam


Islamic Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam
Oleh: Ismail Eko


Percayakah islam dahulu pernah menjadi mercusuar dunia? Menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, hukum, keadilan, sosial dan budaya. Prof. Raghib As-Sirjani[1] menjelaskan dalam bukunya Sumbangsih Peradaban Islam Pada Dunia, bahwa peradaban islam memberikan peran besar terhadap dunia, mengeluarkannya dari kegelapan, kebodohon, penyimpangan dan kebinasaan akhlak. Berbeda dengan peradaban lain yang agama hanya menjadi salah satu elemen peradabannya, peradaban islam justru menjadikan agama sebagai asas seluruh elemen peradaban. Peradaban islam adalah kepanjangan dari asas serta nilai Al Qur’an dan Sunnah, kemudian membukanya kepada seluruh masyarakat di dunia tanpa membedakan bentuk, jenis atau agama.

Barat khususnya di Eropa pernah mengalami satu zaman yang dimana terjadi dikotomi antara peradaban (ilmu pengetahuan) dengan agama, zaman itu disebut zaman kegelapan (The Dark Ages). Disebut zaman kegelapan karena ilmu pengetahuan tidak bebas berkembang karena dibawah otoritas gereja dan tidak boleh melawan dokrin gereja, resiko yang dihadapi adalah hilangnya nyawa. Sebagai contoh pertentangan antara ilmu dengan agama adalah seperti yang dialami oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang mengekspose teori “Heliocentrik”, bahwa matahari adalah pusat tata surya. Pada tahun 24 Februari 1616, sekelompok pakar teknologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan menyatakan bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan bible.[2]

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mengutip kata-kata Sayyid Quthb[3] mengenai hubungan antara agama dan peradaban dalam islam, Sayyid Quthb menyatakan bahwa “keimanan adalah sumber peradaban, meskipun dalam peradaban islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanen. Prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tawhid), supremesi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khilafah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (Syariat)”. Dari penjelasan Sayyid Quthb terlihat bahwa sumber peradaban adalah keimanan, tidak ada dikotomi antara agama dan ilmu sebagaimana di Barat. Banyak tokoh ilmuan dalam islam yang terinspirasi penemuannya dari Al Quur’an dan sunnah atau dengan tujuan awal untuk memudahkan umat islam untuk beribadah seperti untuk menghitung zakat dan waris, untuk memudahkan beribadah haji dan lain-lain. Kita mengenal beberapa tokoh diantarannya Al Khawarizmi yang menciptakan dan meletakan ilmu dasar ilmu Aljabar, lalu ada Al Idrisi, Al Biruni ahli geografi, Al Batani ahli astronomi, Al Jazari ahli teknik mekanik dan masih sangat banyak lagi.

Mengapa bisa terjadi perbedaan karya, kualitas dan peradaban muslim saat ini dengan dahulu? Itu semua karena saat ini umat islam tidak menggunakan worldview atau sudut pandang yang sama dalam memandang sesuatu dengan kaum muslimin dahulu. Worldview meski terdengar sederhana tetapi sangat penting dalam membangun peradaban. Prof. Naquib Al Attas, tokoh cendekiawan dan filsuf muslim saat ini mendefinisikan Worldview Of Islam adalah “pandangan islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-islam lil-wujud)”.[4]

Menurut Al Attas[5] seperti yang dikutip dalam buku Dr Adian Husaini Wajah Peradaban Barat, “bagi Barat kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan”. Sampai sini kita bisa melihat perbedaan yang sangat mendasar antara peradaban Islam dan Barat. Umat islam sekarang cenderung mengikuti barat termasuk dalam menggunakan worldview. Tidak lagi menggunkan worldview islam, pemikirian umat islam dirasuki berbagai isme seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme yang membuat tidak meyakinin bahwa islam adalah satu satunya agama yang benar, tidak menjadikan Rosulullah sebagai suri tauladan, dan tidak menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Inilah yang mebuatumat islam jatuh seperti sekrang ini.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita memandang islam sebagai sebuah sistem yang lengkap, bukan sekedar agama ritual dalam masjid. Terdapat penjelasan makna islam yang baik sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Hasan Al Banna (1906-1949) tokoh gerakan Islam asal Mesir. Hasan Al Banna mangatakan bahwa “islam sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah akidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih,”[6] Itulah islam. sebagai seorang muslim haruslah kita memandang sesuatu yang ada disekitar kita, termasuk memandang agama kita sendiri dari worldview Islam, bukan dari worldview yang lain, dengan kembali menggunakan worldview islam, umat islam akan kembali kembali ke masa jayanya.


[1] Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, hlm. 17
[2] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 295-296
[3] Hamid fahmy Zarkasyi, Worldview Islam Asas Peradaban, hlm.28-29
[4] Ibid., hlm.34
[5] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 3
[6] Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan,hl,.429

Minggu, 28 April 2019

Ghozwul Fikr




Ghozwul Fikr, Serangan Tertajam Nan Abadi
oleh: Ismail Eko

Jangan menyebut orang lain sesat atau kafir, Jangan merasa paling benar!
Semua agama mempunyai misi suci, jangan menggap syurga hanya milik umat islam!
Itu kan dulu, sekarang zaman sudah berbeda!
Jangan bawa-bawa agama didalam politik, ekonomi atau hukum!

Diatas merupakan beberapa argumen serangan yang biasa dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai ajaran islam terhadap umat islam. Serangan-serangan tersebut merupakan bagian dari Ghozwul Fikr atau perang pemikiran, baik yang dilakukan oleh orang yahudi, nasrani, munafik dan lain-lain dengan tujuan merusak akhlak, menghancurkan fikrah (visi dan idealisme sebagai seorang muslim), melarutkan kepribadian (menghilangkan kepribadian muslimnya), hingga murtad keluar dari agama islam sehingga menjadi loyal kepada orang-orang kafir atau yang memusuhi islam.

Ghozwul Fiqh secara bahasa diambil dari kata Ghazwah yang artinya perang atau konfrontasi yang terencana, memiliki tujuan penaklukan dan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki, dan dari kata Fikrah yang artinya pemikiran manusia atau yang mengendalikan tubuh dan segala potensinya. Akmal Sjafril dalam bukunya Islam Liberal 101 mengatakan “ghozwul fikr berbeda dengan perang fisik, ghozwul fikr menggunakan data-data dan hasil pemikiran sebagai senjatanya, peluru berganti dengan argumen, sedangkan kemenangan tidak ditentukan oleh banyaknya korban jiwa melainkan banyaknya pendukung”. Makna perang disini bukan konspirasi tapi benar-benar perang yang wajib dimenangkan oleh kaum muslimin.

Usaha untuk menyerang umat islam melalui pemikiran ini bukan baru dilakukan dihari-hari ini saja, tetapi sejak lama, sebagai contoh seorang tokoh asal Prancis, Petrus Venerabilis atau lebih dikenal Peter the Venerable (1094-1156) yang kemudian menginspirasi para misionaris dunia pernah berkata “aku akan menghadapimu (umat islam) bukan dengan senjata tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekerasan tapi dengan logika dan bukan dengan cara kasar tapi dengan kasih sayang”. Dalam buku Metodologi Bible dalam Studi Al-Qur’an karya Adnin Armas, disebutkan bahwa Peter Venerable pernah berkunjung  ke Toledo Spanyol, dia menghimpun, membiayai dan menugaskan tim penerjemah untuk menghasilkan karya berseri yang akan dijadikan landasan bagi para misionaris kristen ketika berinteraksi dengan kaum muslimin.

Ghazrul Fikr itu nyata dan abadi, serangan ini bahkan dilakukan sebelum Nabi Adam ‘Alaihi Sallam diutus ke muka bumi, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 16 yang berbunyi: “(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah Menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus”. Deklarasi Iblis ini menyatakan bahwa Iblis akan selalu berusaha menyesatkan umat manusia hingga hari akhir (kiamat) nanti. Perlu diingat bahwa Nabi Adam ketika di Surga pernah “diserang” pemikirannya oleh kata-kata prajurit Iblis, sehingga Nabi Adam tanpa disadari berani melanggar perintah Allah untuk memakan buah yang dilarang untuk dimakan.

Nabi Ibrahim A’laihi Sallam, pernah beradu argumen (pemikiran) dengan kaumnya yang menyembah patung berhala sebagaimana diceritakan didalam Al Qur’an surat Al-Anbiya ayat 52-67, Nabi Ibrahim berhasil membuat kaumnya terdiam karena penjelasannya. Begitu juga dengan para nabi yang lain melakukan perang pemikiran dengan kaumnya demi menegakan islam. Nabi Muhammad Shallalahi ‘Alaihi Wasallam-pun tak luput menghadapi serangan oleh kaumnya sendiri bahkan hingga saat ini masih banyak yang menyerang Nabi Muhammad  sebagai penyihir, peniru, pembohong dan lain-lain. Al Qur’an juga tak lepas dari serangan oleh para orientalis atau oleh orang-orang yang sengaja mempelajari islam untuk mengahancurkan islam.

Saat ini, umat islam khususnya umat islam di Indonesia menghadapi tantangan dimana ada sekolompok orang yang menginginkan agar agama dan negara dipisahkan, mereka tidak ingin agar islam masuk kedalam parlemen dan diterapkan syariat-syariatnya, begitu juga di dunia ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Perang pemikiran terus dilancarkan agar islam hanya menjadi agama di dalam masjid, bukan menjadi islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rosulullah dan para pelanjut risalahnya. Mereka menyerang islam melalui media massa, pendidikan dan juga sosial budaya, perlahan umat banyak yang terpengaruh seperti lebih memilih pemimpin non muslim dari pada seorang muslim karena dianggap lebih baik, lebih memilih memperbaiki akhlak saja kepada manusia dibanding memperbaiki hubungan dengan Tuhan melalui ibadah, berusaha melegalkan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender) dan lain-lain.

Dalam ghozwul fikri ini, karena sangat besar bahaya dan daya rusaknya, umat islam wajib memenangkan “peperangan” ini. Umat islam harus mempersiapkan diri dengan menyiapkan strategi yang baik, terus belajar agar menjadi ahli dibidangnya dibanding dengan orang yang menyerang islam itu sendiri. Iblis tidak kenal henti hingga hari akhir untuk menjerumuskan umat manusia ke jalan yang dimurkai oleh Allah, maka kita juga harus terus belajar tanpa henti untuk memenangkan agama Allah.