Ghozwul Fikr, Serangan Tertajam Nan Abadi
oleh: Ismail Eko
Jangan menyebut orang lain sesat atau kafir, Jangan merasa paling benar!
Semua agama mempunyai misi suci, jangan menggap syurga hanya milik umat islam!
Itu kan dulu, sekarang zaman sudah berbeda!
Jangan bawa-bawa agama didalam politik, ekonomi atau hukum!
Diatas merupakan beberapa argumen serangan yang biasa dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai ajaran islam terhadap umat islam. Serangan-serangan tersebut merupakan bagian dari Ghozwul Fikr atau perang pemikiran, baik yang dilakukan oleh orang yahudi, nasrani, munafik dan lain-lain dengan tujuan merusak akhlak, menghancurkan fikrah (visi dan idealisme sebagai seorang muslim), melarutkan kepribadian (menghilangkan kepribadian muslimnya), hingga murtad keluar dari agama islam sehingga menjadi loyal kepada orang-orang kafir atau yang memusuhi islam.
Ghozwul Fiqh secara bahasa diambil dari kata Ghazwah yang artinya perang atau konfrontasi yang terencana, memiliki tujuan penaklukan dan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki, dan dari kata Fikrah yang artinya pemikiran manusia atau yang mengendalikan tubuh dan segala potensinya. Akmal Sjafril dalam bukunya Islam Liberal 101 mengatakan “ghozwul fikr berbeda dengan perang fisik, ghozwul fikr menggunakan data-data dan hasil pemikiran sebagai senjatanya, peluru berganti dengan argumen, sedangkan kemenangan tidak ditentukan oleh banyaknya korban jiwa melainkan banyaknya pendukung”. Makna perang disini bukan konspirasi tapi benar-benar perang yang wajib dimenangkan oleh kaum muslimin.
Usaha untuk menyerang umat islam melalui pemikiran ini bukan baru dilakukan dihari-hari ini saja, tetapi sejak lama, sebagai contoh seorang tokoh asal Prancis, Petrus Venerabilis atau lebih dikenal Peter the Venerable (1094-1156) yang kemudian menginspirasi para misionaris dunia pernah berkata “aku akan menghadapimu (umat islam) bukan dengan senjata tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekerasan tapi dengan logika dan bukan dengan cara kasar tapi dengan kasih sayang”. Dalam buku Metodologi Bible dalam Studi Al-Qur’an karya Adnin Armas, disebutkan bahwa Peter Venerable pernah berkunjung ke Toledo Spanyol, dia menghimpun, membiayai dan menugaskan tim penerjemah untuk menghasilkan karya berseri yang akan dijadikan landasan bagi para misionaris kristen ketika berinteraksi dengan kaum muslimin.
Ghazrul Fikr itu nyata dan abadi, serangan ini bahkan dilakukan sebelum Nabi Adam ‘Alaihi Sallam diutus ke muka bumi, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 16 yang berbunyi: “(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah Menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus”. Deklarasi Iblis ini menyatakan bahwa Iblis akan selalu berusaha menyesatkan umat manusia hingga hari akhir (kiamat) nanti. Perlu diingat bahwa Nabi Adam ketika di Surga pernah “diserang” pemikirannya oleh kata-kata prajurit Iblis, sehingga Nabi Adam tanpa disadari berani melanggar perintah Allah untuk memakan buah yang dilarang untuk dimakan.
Nabi Ibrahim A’laihi Sallam, pernah beradu argumen (pemikiran) dengan kaumnya yang menyembah patung berhala sebagaimana diceritakan didalam Al Qur’an surat Al-Anbiya ayat 52-67, Nabi Ibrahim berhasil membuat kaumnya terdiam karena penjelasannya. Begitu juga dengan para nabi yang lain melakukan perang pemikiran dengan kaumnya demi menegakan islam. Nabi Muhammad Shallalahi ‘Alaihi Wasallam-pun tak luput menghadapi serangan oleh kaumnya sendiri bahkan hingga saat ini masih banyak yang menyerang Nabi Muhammad sebagai penyihir, peniru, pembohong dan lain-lain. Al Qur’an juga tak lepas dari serangan oleh para orientalis atau oleh orang-orang yang sengaja mempelajari islam untuk mengahancurkan islam.
Saat ini, umat islam khususnya umat islam di Indonesia menghadapi tantangan dimana ada sekolompok orang yang menginginkan agar agama dan negara dipisahkan, mereka tidak ingin agar islam masuk kedalam parlemen dan diterapkan syariat-syariatnya, begitu juga di dunia ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Perang pemikiran terus dilancarkan agar islam hanya menjadi agama di dalam masjid, bukan menjadi islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rosulullah dan para pelanjut risalahnya. Mereka menyerang islam melalui media massa, pendidikan dan juga sosial budaya, perlahan umat banyak yang terpengaruh seperti lebih memilih pemimpin non muslim dari pada seorang muslim karena dianggap lebih baik, lebih memilih memperbaiki akhlak saja kepada manusia dibanding memperbaiki hubungan dengan Tuhan melalui ibadah, berusaha melegalkan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender) dan lain-lain.
Dalam ghozwul fikri ini, karena sangat besar bahaya dan daya rusaknya, umat islam wajib memenangkan “peperangan” ini. Umat islam harus mempersiapkan diri dengan menyiapkan strategi yang baik, terus belajar agar menjadi ahli dibidangnya dibanding dengan orang yang menyerang islam itu sendiri. Iblis tidak kenal henti hingga hari akhir untuk menjerumuskan umat manusia ke jalan yang dimurkai oleh Allah, maka kita juga harus terus belajar tanpa henti untuk memenangkan agama Allah.