Senin, 29 April 2019

Cacat hukum, KAMMI Tuntut Pemerintah Kota Bogor Bongkar Bangunan Transmart


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor menggelar aksi demo yang menuntut Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor membongkar bangunan Transmart yang berlokasi di Jalan KH Abdullah Bin Nuh Kelurahan Cibadak Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor karena bangunan tersebut belum mengantungi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Puluhan pengunjuk rasa menggelar aksinya di depan Balaikota Bogor, Selasa (17/10/2017) siang.
Menurut mahasiswa, pembangunan gedung Transmart telah melanggar Perda yang cukup berat.

Pasalnya pembangunan yang dimulai sejak bulan Maret 2017 sampai saat ini belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Padahal jelas disebutkan dalam Perda no. 7 Tahun 2006 bahwa pendirian gedung wajib memiliki IMB. IMB merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum berdirinya gedung.

“Ini sama saja dengan perkosa anak orang baru dikawinin. Pemkot Bogor jangan jadi germo yang membiarkan tanah Bogor diperkosa,” tegas Arif Sibghotulloh koordinator aksi.

Arif mengatakan, Pemkot Bogor harus mengevaluasi besar-besaran terkait permasalahan ini. “Kok bisa pembangunan sudah berjalan hingga kurang lebih 6 bulan sudah berdiri 2 lantai tanpa IMB didiamkan begitu saja,” tukas Ketua KAMMI Bogor Bidang Kebijakan Publik tersebut
Mahasiswa juga mempertanyakan, dimana peran pemkot Bogor dan dinas terkait. Seakan-akan terjadi pembiaran, atau terkesan tutup mata, ada apa sebenarnya??. Perlu adanya ketegasan dalam menangani permasalahan ini.

“Kami meminta ketegasan dari Pemkot Bogor. Pemkot harus berani menggusur pengusaha nakal, jangan tebang pilih,” tandas Arif.


Dalam aksinya para mahasiwa membentangkan spanduk bertuliskan “Bongkar Transmart Harga Mati” Selain mereka melakukan aksi teatrikal, yang digambarkan melalui aksi tabur bunga.

Bunga tersebut ditaburkan di atas kertas bertuliskan ‘Izin Mendirikan Bangunan IMB’. Aksi treatrikal dilakukan mahasiswa sebagai gambaran bahwa perizinan di Kota Bogor sudah mati.

Dalam aksi tersebut tidak ada satupun pejabat Pemkot Bogor yang menerima perwakilan pengunjuk rasa. “Kami sempat akan diterima oleh Kasatpol PP, tapi kami tolak, karena bukan Wali Kota atau Wakil Wali Kota yang menerima kami, ” kata Wakil Ketua Umum KAMMI Bogor Lathif Fardiansyah

Selama berjalannya aksi mendapat pengawalan dari puluhan aparat kepolisian dari Polresta Bogor Kota dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor.

sumber: https://inilahonline.com/kammi-tuntut-pemerintah-kota-bogor-bongkar-bangunan-transmart/

Sindir Perjalanan Dinas, KAMMI: Enak Toh Jalan-jalan Pakai Duit Rakyat


Ketua dan Wakil DPRD Kota Bogor disindri melalui spanduk demontrasi mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor.

"Jalan-jalan ke Paris pake duit rakyat Bogor, enak toh jalan2 pakai duit rakyat," tulisan di sebuah banner yang dibawa lengkap dengan foto Untung Maryono dan Hery Cahyono.

Aksi demo di Gedung DPRD Kota Bogor, pada Senin (04/01/2015), sekitar pukul 14.30 WIB, menuntut beberapa hal.

"Kami menuntut agar Pemkot tidak lagi melakukan pemborosan anggaran perjalan dinas, yang paling parah itu ke Paris," kata Ketua Kammi, Abdul Sallam, kepada TribunnewsBogor.com.

Selain itu, massa juga menuntut agar fungsi pengawasan ditingkatkan, agar realisasi anggaran lebih maksimal dan tidak menimbulkan silfa.

"Untuk Pemkot, kami mendesak untuk mengganti jajaran SKPD yang memiliki catatan buruk, seperi Disdik, Binamarga dan Wasbangkim," kata Abdul.

Lebih parah, tuntutan paling mendasar dari aksi demo ini ialah Pemkot Bogor diminta untuk bertanggung jawab atas hilangnya aset daerah sebesar Rp 123 miliar.

"Kemana itu aset, nilainya fantastis, harus tanggungjawab," ujarnya.

sumber: http://bogor.tribunnews.com/2016/01/04/sindir-perjalanan-dinas-kammi-enak-toh-jalan-jalan-pakai-duit-rakyat.

KAMMI Bogor : Menjaga Stabilitas Nasional dan Menolak Intoleran


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, (KAMMI) Bogor menjujung tinggi peduli terhadap sikap Toleransi antar umat beragama yang ada di Jawa Barat terutama di Kota Bogor.

Masyarakat kota Bogor sangat wujudkan sikap toleransi dan persatuan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Ketua KAMMI Kota Bogor Ammar Multazam SH. MH, menyatakan jadikan kota Bogor sebagai daerah yang mempuyai persamaan Hidup beragama dan bertoleransi yang baik dan saling menghormati, menghargai antar umat beragama sehingga tidak menjadikan kota Bogor hanya milik suata golongan atau kelompok saja.

"Dengan menghargai dan menghormati antar umat beragama akan menjadikan kota Bogor yang santun bermartabat dan mempuyai budi pekerti dan sikap toleransi yang baik," kata Ketua KAMMI, Selasa 18 Desember 2018.

Lanjutnya, organisasi KAMMI kota Bogor mempuyai visi misi untuk pembagunan kota Bogor yang baik dan dapat terciptanya kesamaan dan keadilan yang baik bagi semua kalangan.

"Motto kami, mendukung terciptanya stabilitas Nasional dengan menolak intoleran di wilayah Bogor" ujar Ammar.

Wilayah Jawa Barat khususnya Bogor akan terbangun sinergitas dan pembangunan SDM dan sarana dan prasarana yang baik, karna Keamanan dan ketertiban dapat terjaga dengan baik dan berjalan sesuai dengan koridor Hukum yang berlaku.

"Terciptanya Keamanan Nasional yang dapat mempersatukan NKRI khususnya wilayah Bogor," harap Ammar ketua KAMMI Bogor.

sumber: http://indojayanews.com/daerah/kammi-bogor--menjaga-stabilitas-nasional-dan-menolak-intoleran/

Bima Arya: KAMMI memiliki ketulusan dan keikhlasan


Wali Kota Bogor Bima Arya meminta Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) untuk beradaptasi dan bersinergi. Tugas, visi dan tantangan kedepan sama, namun tantangan yang utama adalah beradaptasi dengan perubahan. "Wali Kota harus beradaptasi, KAMMI juga harus beradaptasi ditengah jutaan tantangan dan peluang," jelas Wali Kota Bogor Bima Arya saat membuka pawai Milad ke-19 KAMMI di tugu Kujang, Kota Bogor. Minggu (02/04/17).

Menurut Bima, dahulu saat dirinya aktif di LSM dan NGO isu utama adalah demokratisasi. Namun sekarang isu besarnya adalah lingkungan hidup, transportasi, kesehatan dan pendidikan. Dahulu yang terkenal itu aktivis lapangan dan tokoh politik, tetapi sekarang yang menjadi sorotan itu kepala daerah, gubernur, bupati dan walikota yang berprestasi. "Isunya pun bukan lagi isu politik, namun isu kesejahteraan, kesehatan dan kemacetan," ujar Bima.

Oleh karena itu, Bima mengajak KAMMI untuk sama-sama beradptasi terhadap isu perubahan yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Politik penting, tapi itu bukan segalanya. Bagi warga mereka tidak peduli siapa pemimpin politiknya yang penting bisa hidup dengan nyaman dan tenang. “Intinya mari kita sama-sama beradaptasi dan bersinergi dengan permasalahan konkrit,“ ungkapnya.

Menurutnya, perjuangan terberat adalah membangun kultur. Ada uang infrastruktur bisa dibangun, tetapi belum tentu dengan kultur. Tugas kita sekarang adalah membangun kultur, warga yang cinta pada kotanya, warga yang ingin mengurus kotanya. "Pemkot Bogor dan KAMMI bisa melakukan itu karena KAMMI punya satu hal hal yang tidak dimiliki yang lain yakni ketulusan dan keikhlasan," pungkasnya.
sumber: https://kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/6619/bima-kammi-harus-mampu-beradaptasi-dan-bersinergi

Islamic Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam


Islamic Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam
Oleh: Ismail Eko


Percayakah islam dahulu pernah menjadi mercusuar dunia? Menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, hukum, keadilan, sosial dan budaya. Prof. Raghib As-Sirjani[1] menjelaskan dalam bukunya Sumbangsih Peradaban Islam Pada Dunia, bahwa peradaban islam memberikan peran besar terhadap dunia, mengeluarkannya dari kegelapan, kebodohon, penyimpangan dan kebinasaan akhlak. Berbeda dengan peradaban lain yang agama hanya menjadi salah satu elemen peradabannya, peradaban islam justru menjadikan agama sebagai asas seluruh elemen peradaban. Peradaban islam adalah kepanjangan dari asas serta nilai Al Qur’an dan Sunnah, kemudian membukanya kepada seluruh masyarakat di dunia tanpa membedakan bentuk, jenis atau agama.

Barat khususnya di Eropa pernah mengalami satu zaman yang dimana terjadi dikotomi antara peradaban (ilmu pengetahuan) dengan agama, zaman itu disebut zaman kegelapan (The Dark Ages). Disebut zaman kegelapan karena ilmu pengetahuan tidak bebas berkembang karena dibawah otoritas gereja dan tidak boleh melawan dokrin gereja, resiko yang dihadapi adalah hilangnya nyawa. Sebagai contoh pertentangan antara ilmu dengan agama adalah seperti yang dialami oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang mengekspose teori “Heliocentrik”, bahwa matahari adalah pusat tata surya. Pada tahun 24 Februari 1616, sekelompok pakar teknologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan menyatakan bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan bible.[2]

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mengutip kata-kata Sayyid Quthb[3] mengenai hubungan antara agama dan peradaban dalam islam, Sayyid Quthb menyatakan bahwa “keimanan adalah sumber peradaban, meskipun dalam peradaban islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanen. Prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tawhid), supremesi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khilafah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (Syariat)”. Dari penjelasan Sayyid Quthb terlihat bahwa sumber peradaban adalah keimanan, tidak ada dikotomi antara agama dan ilmu sebagaimana di Barat. Banyak tokoh ilmuan dalam islam yang terinspirasi penemuannya dari Al Quur’an dan sunnah atau dengan tujuan awal untuk memudahkan umat islam untuk beribadah seperti untuk menghitung zakat dan waris, untuk memudahkan beribadah haji dan lain-lain. Kita mengenal beberapa tokoh diantarannya Al Khawarizmi yang menciptakan dan meletakan ilmu dasar ilmu Aljabar, lalu ada Al Idrisi, Al Biruni ahli geografi, Al Batani ahli astronomi, Al Jazari ahli teknik mekanik dan masih sangat banyak lagi.

Mengapa bisa terjadi perbedaan karya, kualitas dan peradaban muslim saat ini dengan dahulu? Itu semua karena saat ini umat islam tidak menggunakan worldview atau sudut pandang yang sama dalam memandang sesuatu dengan kaum muslimin dahulu. Worldview meski terdengar sederhana tetapi sangat penting dalam membangun peradaban. Prof. Naquib Al Attas, tokoh cendekiawan dan filsuf muslim saat ini mendefinisikan Worldview Of Islam adalah “pandangan islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-islam lil-wujud)”.[4]

Menurut Al Attas[5] seperti yang dikutip dalam buku Dr Adian Husaini Wajah Peradaban Barat, “bagi Barat kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan”. Sampai sini kita bisa melihat perbedaan yang sangat mendasar antara peradaban Islam dan Barat. Umat islam sekarang cenderung mengikuti barat termasuk dalam menggunakan worldview. Tidak lagi menggunkan worldview islam, pemikirian umat islam dirasuki berbagai isme seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme yang membuat tidak meyakinin bahwa islam adalah satu satunya agama yang benar, tidak menjadikan Rosulullah sebagai suri tauladan, dan tidak menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Inilah yang mebuatumat islam jatuh seperti sekrang ini.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita memandang islam sebagai sebuah sistem yang lengkap, bukan sekedar agama ritual dalam masjid. Terdapat penjelasan makna islam yang baik sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Hasan Al Banna (1906-1949) tokoh gerakan Islam asal Mesir. Hasan Al Banna mangatakan bahwa “islam sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah akidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih,”[6] Itulah islam. sebagai seorang muslim haruslah kita memandang sesuatu yang ada disekitar kita, termasuk memandang agama kita sendiri dari worldview Islam, bukan dari worldview yang lain, dengan kembali menggunakan worldview islam, umat islam akan kembali kembali ke masa jayanya.


[1] Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, hlm. 17
[2] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 295-296
[3] Hamid fahmy Zarkasyi, Worldview Islam Asas Peradaban, hlm.28-29
[4] Ibid., hlm.34
[5] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 3
[6] Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan,hl,.429

Minggu, 28 April 2019

Ghozwul Fikr




Ghozwul Fikr, Serangan Tertajam Nan Abadi
oleh: Ismail Eko

Jangan menyebut orang lain sesat atau kafir, Jangan merasa paling benar!
Semua agama mempunyai misi suci, jangan menggap syurga hanya milik umat islam!
Itu kan dulu, sekarang zaman sudah berbeda!
Jangan bawa-bawa agama didalam politik, ekonomi atau hukum!

Diatas merupakan beberapa argumen serangan yang biasa dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai ajaran islam terhadap umat islam. Serangan-serangan tersebut merupakan bagian dari Ghozwul Fikr atau perang pemikiran, baik yang dilakukan oleh orang yahudi, nasrani, munafik dan lain-lain dengan tujuan merusak akhlak, menghancurkan fikrah (visi dan idealisme sebagai seorang muslim), melarutkan kepribadian (menghilangkan kepribadian muslimnya), hingga murtad keluar dari agama islam sehingga menjadi loyal kepada orang-orang kafir atau yang memusuhi islam.

Ghozwul Fiqh secara bahasa diambil dari kata Ghazwah yang artinya perang atau konfrontasi yang terencana, memiliki tujuan penaklukan dan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki, dan dari kata Fikrah yang artinya pemikiran manusia atau yang mengendalikan tubuh dan segala potensinya. Akmal Sjafril dalam bukunya Islam Liberal 101 mengatakan “ghozwul fikr berbeda dengan perang fisik, ghozwul fikr menggunakan data-data dan hasil pemikiran sebagai senjatanya, peluru berganti dengan argumen, sedangkan kemenangan tidak ditentukan oleh banyaknya korban jiwa melainkan banyaknya pendukung”. Makna perang disini bukan konspirasi tapi benar-benar perang yang wajib dimenangkan oleh kaum muslimin.

Usaha untuk menyerang umat islam melalui pemikiran ini bukan baru dilakukan dihari-hari ini saja, tetapi sejak lama, sebagai contoh seorang tokoh asal Prancis, Petrus Venerabilis atau lebih dikenal Peter the Venerable (1094-1156) yang kemudian menginspirasi para misionaris dunia pernah berkata “aku akan menghadapimu (umat islam) bukan dengan senjata tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekerasan tapi dengan logika dan bukan dengan cara kasar tapi dengan kasih sayang”. Dalam buku Metodologi Bible dalam Studi Al-Qur’an karya Adnin Armas, disebutkan bahwa Peter Venerable pernah berkunjung  ke Toledo Spanyol, dia menghimpun, membiayai dan menugaskan tim penerjemah untuk menghasilkan karya berseri yang akan dijadikan landasan bagi para misionaris kristen ketika berinteraksi dengan kaum muslimin.

Ghazrul Fikr itu nyata dan abadi, serangan ini bahkan dilakukan sebelum Nabi Adam ‘Alaihi Sallam diutus ke muka bumi, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 16 yang berbunyi: “(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah Menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus”. Deklarasi Iblis ini menyatakan bahwa Iblis akan selalu berusaha menyesatkan umat manusia hingga hari akhir (kiamat) nanti. Perlu diingat bahwa Nabi Adam ketika di Surga pernah “diserang” pemikirannya oleh kata-kata prajurit Iblis, sehingga Nabi Adam tanpa disadari berani melanggar perintah Allah untuk memakan buah yang dilarang untuk dimakan.

Nabi Ibrahim A’laihi Sallam, pernah beradu argumen (pemikiran) dengan kaumnya yang menyembah patung berhala sebagaimana diceritakan didalam Al Qur’an surat Al-Anbiya ayat 52-67, Nabi Ibrahim berhasil membuat kaumnya terdiam karena penjelasannya. Begitu juga dengan para nabi yang lain melakukan perang pemikiran dengan kaumnya demi menegakan islam. Nabi Muhammad Shallalahi ‘Alaihi Wasallam-pun tak luput menghadapi serangan oleh kaumnya sendiri bahkan hingga saat ini masih banyak yang menyerang Nabi Muhammad  sebagai penyihir, peniru, pembohong dan lain-lain. Al Qur’an juga tak lepas dari serangan oleh para orientalis atau oleh orang-orang yang sengaja mempelajari islam untuk mengahancurkan islam.

Saat ini, umat islam khususnya umat islam di Indonesia menghadapi tantangan dimana ada sekolompok orang yang menginginkan agar agama dan negara dipisahkan, mereka tidak ingin agar islam masuk kedalam parlemen dan diterapkan syariat-syariatnya, begitu juga di dunia ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Perang pemikiran terus dilancarkan agar islam hanya menjadi agama di dalam masjid, bukan menjadi islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rosulullah dan para pelanjut risalahnya. Mereka menyerang islam melalui media massa, pendidikan dan juga sosial budaya, perlahan umat banyak yang terpengaruh seperti lebih memilih pemimpin non muslim dari pada seorang muslim karena dianggap lebih baik, lebih memilih memperbaiki akhlak saja kepada manusia dibanding memperbaiki hubungan dengan Tuhan melalui ibadah, berusaha melegalkan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender) dan lain-lain.

Dalam ghozwul fikri ini, karena sangat besar bahaya dan daya rusaknya, umat islam wajib memenangkan “peperangan” ini. Umat islam harus mempersiapkan diri dengan menyiapkan strategi yang baik, terus belajar agar menjadi ahli dibidangnya dibanding dengan orang yang menyerang islam itu sendiri. Iblis tidak kenal henti hingga hari akhir untuk menjerumuskan umat manusia ke jalan yang dimurkai oleh Allah, maka kita juga harus terus belajar tanpa henti untuk memenangkan agama Allah.

Kredo KAMMI



KREDO GERAKAN KAMMI
  1. Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.
  2. Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagi takluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada-Nya.
  3. Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medan pertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkan setiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.
  4. Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupan keseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerjakerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.
  5. Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
  6. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, panglima yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit yang setia, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.

Filosofi Gerakan KAMMI





VISI dan MISI KAMMI

Visi

Wadah Perjuangan Permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam
upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami

Misi

  • Membina keislaman, keimanan, dan ketakwaan mahasiswa muslim Indonesia.
  • Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, politik, dan kemandirian ekonomi mahasiswa.
  • Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara.
  • Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadimasyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
  • Mengembangkan kerjasama antar elemen bangsa dan negara dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar)


PRINSIP
  • Kemenangan Islam adalah jiwa perjuanganKAMMI.
  • Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI.
  • Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI.
  • Perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI.
  • Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI.
  • Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI.


PARADIGMA
  • KAMMI adalah Gerakan Dakwah Tauhid
  • KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetik
  • KAMMI adalah Gerakan Sosial Independen
  • KAMMI adalah Gerakan Politik Ekstraperlementer

Makna Lambang KAMMI


Tafsir lambang KAMMI pertama kali di bahas di Muktamar Lampung tepatnya oleh Komisi C. Pembuat draft tafsir lambang KAMMI adalah Yuli Widy Astono yang ketika itu masih menjabat ketua KAMMI Bogor.

1. Warna Dasar Putih melambangkan kesucian.

2. Globe Warna Biru Laut melambangkan da’wah universal yang mencakup bumi Allah di manapun kita berada.

3. Tangan Kanan yang Mengangkat Globe melambangkan da’wah KAMMI menggunakan kekuatan dalam mengemban da’wah ini.

4. Lima Bunga Mawar Warna Merah yang Mengelilingi Tangan melambangkan kelembutan dalam berda’wah dan jumlah Lima Kuntum Bunga Mawar melambangkan Rukun Islam.

5. Gradasi Warna Hijau melambangkan tahapan – tahapan da’wah KAMMI dalam membumikan ajaran Islam di Bumi Allah.

Sejarah KAMMI





KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) adalah sebuah organisasi mahasiswa muslim yang lahir di era reformasi yaitu tepatnya tanggal 29 Maret 1998 di Malang. Anggotanya tersebar di hampir seluruh PTN di Indonesia. Saat ini, kader KAMMI sudah mampu menjadi pemimpin kampus (Ketua BEM) hampir di 300 kampus.


Latar Belakang Berdirinya KAMMI

KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia. Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktivis dakwah kampus. KAMMI lahir pada ahad tanggal 29 Maret 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang.

KAMMI lahir didasari sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap krisis nasional tahun 1998 yang melanda Indonesia. Krisis kepercayaan terutama pada sektor kepemimpinan telah membangkitkan kepekaan para pimpinan aktivis dakwah kampus di seluruh Indonesia yang saat itu berkumpul di UMM – Malang.


Pemilihan Nama



Pemilihan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang kemudian disingkat KAMMI mengandung makna atau memiliki konsekuensi pada beberapa hal yaitu :

1. KAMMI adalah sebuah kekuatan terorganisir yang menghimpun berbagai elemen Mahasiswa Muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat bekerja dalam format proyek gerakan bersama KAMMI.

2. KAMMI adalah sebuah gerakan yang berorientasi kepada aksi real dan sistematis yang dilandasi gagasan konsepsional yang berdasar AL-Qur’an dan Sunnah mengenai reformasi dan pembentukan masyarakat Islami (berperadaban).

3. Kekuatan inti KAMMI adalah kalangan mahasiswa pada berbagai stratanya yang memiliki komitmen perjuangan keislaman dan kebangsaan yang jelas dan benar.

4. Visi gerakan KAMMI dilandasi pemahaman akan realitas bangsa Indonesia dengan berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan bekerja untuk kebaikan dan kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.