Islamic
Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam
Oleh: Ismail Eko
Percayakah islam dahulu pernah
menjadi mercusuar dunia? Menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi,
hukum, keadilan, sosial dan budaya. Prof. Raghib As-Sirjani[1]
menjelaskan dalam bukunya Sumbangsih
Peradaban Islam Pada Dunia, bahwa peradaban islam memberikan peran besar
terhadap dunia, mengeluarkannya dari kegelapan, kebodohon, penyimpangan dan
kebinasaan akhlak. Berbeda dengan peradaban lain yang agama hanya menjadi salah
satu elemen peradabannya, peradaban islam justru menjadikan agama sebagai asas
seluruh elemen peradaban. Peradaban islam adalah kepanjangan dari asas serta
nilai Al Qur’an dan Sunnah, kemudian membukanya kepada seluruh masyarakat di
dunia tanpa membedakan bentuk, jenis atau agama.
Barat khususnya di Eropa pernah
mengalami satu zaman yang dimana terjadi dikotomi antara peradaban (ilmu
pengetahuan) dengan agama, zaman itu disebut zaman kegelapan (The Dark
Ages). Disebut zaman kegelapan karena ilmu pengetahuan tidak bebas berkembang
karena dibawah otoritas gereja dan tidak boleh melawan dokrin gereja, resiko
yang dihadapi adalah hilangnya nyawa. Sebagai contoh pertentangan antara ilmu
dengan agama adalah seperti yang dialami oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang
mengekspose teori “Heliocentrik”,
bahwa matahari adalah pusat tata surya. Pada tahun 24 Februari 1616, sekelompok
pakar teknologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan menyatakan bahwa teori
Galileo itu bertentangan dengan bible.[2]
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mengutip
kata-kata Sayyid Quthb[3]
mengenai hubungan antara agama dan peradaban dalam islam, Sayyid Quthb menyatakan
bahwa “keimanan adalah sumber peradaban, meskipun dalam peradaban islam
struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun
prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanen. Prinsip itu
adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tawhid),
supremesi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material,
pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani,
penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khilafah Allah di
Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (Syariat)”. Dari penjelasan Sayyid
Quthb terlihat bahwa sumber peradaban adalah keimanan, tidak ada dikotomi
antara agama dan ilmu sebagaimana di Barat. Banyak tokoh ilmuan dalam islam
yang terinspirasi penemuannya dari Al Quur’an dan sunnah atau dengan tujuan
awal untuk memudahkan umat islam untuk beribadah seperti untuk menghitung zakat
dan waris, untuk memudahkan beribadah haji dan lain-lain. Kita mengenal
beberapa tokoh diantarannya Al Khawarizmi yang menciptakan dan meletakan ilmu
dasar ilmu Aljabar, lalu ada Al Idrisi, Al Biruni ahli geografi, Al Batani ahli
astronomi, Al Jazari ahli teknik mekanik dan masih sangat banyak lagi.
Mengapa bisa terjadi perbedaan
karya, kualitas dan peradaban muslim saat ini dengan dahulu? Itu semua karena
saat ini umat islam tidak menggunakan worldview
atau sudut pandang yang sama dalam memandang sesuatu dengan kaum muslimin
dahulu. Worldview meski terdengar
sederhana tetapi sangat penting dalam membangun peradaban. Prof. Naquib Al
Attas, tokoh cendekiawan dan filsuf muslim saat ini mendefinisikan Worldview Of Islam adalah “pandangan islam tentang realitas dan
kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud;
oleh karena apa yang dipancarkan islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam
tentang wujud (ru’yat al-islam lil-wujud)”.[4]
Menurut Al Attas[5]
seperti yang dikutip dalam buku Dr Adian Husaini Wajah Peradaban Barat, “bagi Barat kebenaran fundamental dari agama
dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai
relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya adalah penegasian
Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak
mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan”. Sampai
sini kita bisa melihat perbedaan yang sangat mendasar antara peradaban Islam
dan Barat. Umat islam sekarang cenderung mengikuti barat termasuk dalam
menggunakan worldview. Tidak lagi
menggunkan worldview islam,
pemikirian umat islam dirasuki berbagai isme
seperti Sekularisme, Pluralisme,
Liberalisme yang membuat tidak meyakinin bahwa islam adalah satu satunya agama
yang benar, tidak menjadikan Rosulullah sebagai suri tauladan, dan tidak
menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Inilah yang mebuatumat islam
jatuh seperti sekrang ini.
Sebagai seorang muslim seharusnya
kita memandang islam sebagai sebuah sistem yang lengkap, bukan sekedar agama
ritual dalam masjid. Terdapat penjelasan makna islam yang baik sebagaimana yang
disampaikan oleh Syekh Hasan Al Banna (1906-1949) tokoh gerakan Islam asal
Mesir. Hasan Al Banna mangatakan bahwa “islam sistem menyeluruh yang menyentuh
seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat,
akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang,
ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad
dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah akidah yang lurus
dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih,”[6]
Itulah islam. sebagai seorang muslim haruslah kita memandang sesuatu yang ada
disekitar kita, termasuk memandang agama kita sendiri dari worldview Islam, bukan dari worldview
yang lain, dengan kembali menggunakan worldview
islam, umat islam akan kembali kembali ke masa jayanya.
[1]
Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, Sumbangan
Peradaban Islam Pada Dunia, hlm. 17
[2]
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat,
hlm. 295-296
[3]
Hamid fahmy Zarkasyi, Worldview Islam Asas Peradaban, hlm.28-29
[4]
Ibid., hlm.34
[5]
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat,
hlm. 3
[6]
Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan,hl,.429

0 komentar:
Posting Komentar