Senin, 29 April 2019

Islamic Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam


Islamic Worldview, Titik Awal Mengembalikan Peradaban Islam
Oleh: Ismail Eko


Percayakah islam dahulu pernah menjadi mercusuar dunia? Menjadi kiblat ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, hukum, keadilan, sosial dan budaya. Prof. Raghib As-Sirjani[1] menjelaskan dalam bukunya Sumbangsih Peradaban Islam Pada Dunia, bahwa peradaban islam memberikan peran besar terhadap dunia, mengeluarkannya dari kegelapan, kebodohon, penyimpangan dan kebinasaan akhlak. Berbeda dengan peradaban lain yang agama hanya menjadi salah satu elemen peradabannya, peradaban islam justru menjadikan agama sebagai asas seluruh elemen peradaban. Peradaban islam adalah kepanjangan dari asas serta nilai Al Qur’an dan Sunnah, kemudian membukanya kepada seluruh masyarakat di dunia tanpa membedakan bentuk, jenis atau agama.

Barat khususnya di Eropa pernah mengalami satu zaman yang dimana terjadi dikotomi antara peradaban (ilmu pengetahuan) dengan agama, zaman itu disebut zaman kegelapan (The Dark Ages). Disebut zaman kegelapan karena ilmu pengetahuan tidak bebas berkembang karena dibawah otoritas gereja dan tidak boleh melawan dokrin gereja, resiko yang dihadapi adalah hilangnya nyawa. Sebagai contoh pertentangan antara ilmu dengan agama adalah seperti yang dialami oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang mengekspose teori “Heliocentrik”, bahwa matahari adalah pusat tata surya. Pada tahun 24 Februari 1616, sekelompok pakar teknologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan menyatakan bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan bible.[2]

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mengutip kata-kata Sayyid Quthb[3] mengenai hubungan antara agama dan peradaban dalam islam, Sayyid Quthb menyatakan bahwa “keimanan adalah sumber peradaban, meskipun dalam peradaban islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanen. Prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tawhid), supremesi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khilafah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya (Syariat)”. Dari penjelasan Sayyid Quthb terlihat bahwa sumber peradaban adalah keimanan, tidak ada dikotomi antara agama dan ilmu sebagaimana di Barat. Banyak tokoh ilmuan dalam islam yang terinspirasi penemuannya dari Al Quur’an dan sunnah atau dengan tujuan awal untuk memudahkan umat islam untuk beribadah seperti untuk menghitung zakat dan waris, untuk memudahkan beribadah haji dan lain-lain. Kita mengenal beberapa tokoh diantarannya Al Khawarizmi yang menciptakan dan meletakan ilmu dasar ilmu Aljabar, lalu ada Al Idrisi, Al Biruni ahli geografi, Al Batani ahli astronomi, Al Jazari ahli teknik mekanik dan masih sangat banyak lagi.

Mengapa bisa terjadi perbedaan karya, kualitas dan peradaban muslim saat ini dengan dahulu? Itu semua karena saat ini umat islam tidak menggunakan worldview atau sudut pandang yang sama dalam memandang sesuatu dengan kaum muslimin dahulu. Worldview meski terdengar sederhana tetapi sangat penting dalam membangun peradaban. Prof. Naquib Al Attas, tokoh cendekiawan dan filsuf muslim saat ini mendefinisikan Worldview Of Islam adalah “pandangan islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-islam lil-wujud)”.[4]

Menurut Al Attas[5] seperti yang dikutip dalam buku Dr Adian Husaini Wajah Peradaban Barat, “bagi Barat kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan”. Sampai sini kita bisa melihat perbedaan yang sangat mendasar antara peradaban Islam dan Barat. Umat islam sekarang cenderung mengikuti barat termasuk dalam menggunakan worldview. Tidak lagi menggunkan worldview islam, pemikirian umat islam dirasuki berbagai isme seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme yang membuat tidak meyakinin bahwa islam adalah satu satunya agama yang benar, tidak menjadikan Rosulullah sebagai suri tauladan, dan tidak menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Inilah yang mebuatumat islam jatuh seperti sekrang ini.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita memandang islam sebagai sebuah sistem yang lengkap, bukan sekedar agama ritual dalam masjid. Terdapat penjelasan makna islam yang baik sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Hasan Al Banna (1906-1949) tokoh gerakan Islam asal Mesir. Hasan Al Banna mangatakan bahwa “islam sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah akidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih,”[6] Itulah islam. sebagai seorang muslim haruslah kita memandang sesuatu yang ada disekitar kita, termasuk memandang agama kita sendiri dari worldview Islam, bukan dari worldview yang lain, dengan kembali menggunakan worldview islam, umat islam akan kembali kembali ke masa jayanya.


[1] Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, hlm. 17
[2] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 295-296
[3] Hamid fahmy Zarkasyi, Worldview Islam Asas Peradaban, hlm.28-29
[4] Ibid., hlm.34
[5] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 3
[6] Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan,hl,.429

0 komentar:

Posting Komentar